Menggali Potensi Diri Sendiri (Pengalaman Pribadi)

Pada artikel kali ini saya akan mencoba menjelaskan sebuah artikel tentang “Menggali Potensi Diri Sendiri” hal ini saya lakukan untuk tugas softskill saya dan sejenak curhat tentang siapa saya dan apa saja potensi diri saya yang sebelumnya belum pernah saya ceritakan pada blog saya agar para pembaca mengenal siapa saya.

Saya adalah seorang pria menjelang dewasa yang berumur 21 tahun, saya anak ke dua dari dua bersaudara, saya memiliki kakak perempuan, ibu saya berprofesi sebagai guru dan ayah yang berprofesi sebagai pegawai harian lepas di dinas kebersihan DKI Jakarta, mungkin itu sudah cukup mengambarkan latar belakang keluarga saya.

Saya terkandang menanggap diri saya seorang yang tertutup tetapi ketika mempunyai teman yang sudah saya percayai atau bisa disebut sahabat saya tidak ragu untuk berbagi cerita dengan sahabat saya, namun terkadang saya meragukan apakah hal yang saya lakukan dengan berbagi cerita dengan sahabat saya, apakah sahabat saya  bisa menjaga cerita-cerita saya kepada orang lain, namun sepanjang perjalanan hidup saya ada saja teman yang saya sudah anggap sebagai sahabat sering melukai perasaan saya dengan menceritakan cerita pribadi saya kepada orang lain yang harusnya dia tidak ceritakan karena dia sudah berjanji sebelumnya, namun itulah manusia tidak sepenuhnya bisa kita percayai karena yang sepenuhnya bisa kita percayai hanya Tuhan dan diri kita sendiri. Hal itu menbuat saya lebih selektif lagi dalam bercerita segala hal pribadi saya kepada orang lain walaupun itu sahabat, saya tetap membatasi apa yang mereka ketahui mengenai saya.

Saya sendiri dikatakan orang tua saya termasuk anak yang mandiri diwaktu kecil karena kedua orang tua saya sibuk bekerja dan saya kadang hidup sendiri tanpa pembantu atau saudara walaupun saya memiliki kakak perempuan yang berbeda umur hanya 3 tahun namun terkadang kakak saya juga memiliki teman-teman dan dunianya sendiri sehingga saya sering tinggal dirumah sendiri yang menjadikan saya terbiasa hidup mandiri.

Pernah suatu ketika saya berumur 8 tahun saya bermain bola disebuah lapangan dengan teman-teman saya, saya mengalami hal yang menyakitkan yaitu kaki saya tertusuk beling yang lebarnya kira-5cm dan menancap dalam pada telapak kaki saya, hal itu membuat saya panik dan juga takut untuk pulang ke rumah karena saya berfikir bila saya pulang kerumah saya akan dimarahi, sampai ada kurang 30 menit saya tidak berani pulang ke rumah karena perasaaan takut dimarahi orang tua, namun saya berfikir bila seperti ini terus saya akan kehabisan darah karena kaki saya terus mengeluarkan darah, sampai akhirnya saya mengambil keputusan untuk beranikan diri untuk pulang ke rumah dengan mengendap-ngendap pergi ke kamar mandi untuk mencuci kaki saya yang masih kotor dan berdarah terus menerus, tapi hal itu ternyata malah mebuat kedua orang tua saya curiga mereka pun langsung menghapiri saya dan melihat kaki saya dalam keadaan berdarah dikamar mandi dan mereka menanyakan, mengapa hal itu terjadi, lalu saya menceritakan semua yang terjadi dilapangan saat saya bermain dan mereka pun panik karna saya tidak langsung pulang ke rumah, mereka pun dengan sigapnya membawa saya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut, dan tidak saya sangka saya ternyata harus mendapat 17 jahitan pada telapak kaki saya dan tidak bisa berjalan kurang lebih 1 bulan karena proses menunggu jahitan kering dan benar-benar bisa digunakan untuk berjalan, dari hal itu saya menyadari saya benar-benar mandiri sesuai dengan pernyataan orang tua saya, karena saya bisa mengedalikan diri saya untuk tidak terlalu panik dan tidak merepotkan orang lain (orang tua) terlebih dahulu melainkan berusaha bertahan hidup sendiri.

Bukan hal itu saja yang menyimpulkan siapa diri saya, saya yang memiliki kelebihan mandiri, percaya terhadap orang lain dan saya memiliki pengalaman yang saya sadari bahwa saya juga memiliki sifat kepemimpinan yang lumayan baik dimana saya dipercayai menjadi ketua kelas dan ketua organisasi keagamaan pada saat saya SMA.

Pada awalnya saya masuk SMA saya meragukan diri saya untuk dapat memimpin di kelas saya karena jujur saja saya sendiri mempunyai sifat gerogi atau kurang percaya diri yang cukup besar namun orang tua saya mengajarkan bahwa saya harus keluar zona aman bila saya ingin menjadi orang yang sukses, oleh karena itu saya beranikan diri untuk mencoba menjadi ketua kelas dengan meningkatkan kemampuan saya untuk berbicara didepan umum dan berlatih percaya diri dengan apapun yang saya lakukan.

Ternyata hal itu tidak sia-sia menurut saya, hal itu membuat saya lebih percaya diri dan tidak gerogi untuk berbicara didepan umum. Sampai hal yang saya tidak juga sangka dimana di waktu yang sama yaitu waktu SMA saya juga dipercayai menjadi ketua organisasi keagamaan di SMA, hal ini bagi saya sangat berat karena harus menjadi seorang ketua yang memberikan teladan ke pada teman-teman saya satu SMA, bukan satu kelas dan membuat saya harus banyak belajar bijaksana lagi dalam pengambilan kebijaksaan dalam segala tidakan maupun ucapan yang saya sampaikan.

Hal itu mebuat saya mengerti benar-benar bagaimana suka-duka menjadi pemimpin disuatu organisasi dan segala keuntungan menjadi pemimpin di suatu organisasi, contohnya saya menjadi dikenal dikalang guru-guru, teman-teman satu angkatan atau bahkan adik kelas dan kaka kelas, dan membuat saya memiliki banyak relasi dengan sekolah-sekolah lain dalam hal organisasi keagamaan.

Di sisi lain saya mempunyai sifat, yang bagi saya patut saya banggakan yaitu sifat pekerja keras, bila saya sedang mengerjakan suatu hal mau itu tugas, kewajiban saya sebagai anak ataupun keinginan diri sendiri saya berusaha mengerjakan dengan maksimal dan tepat waktu sehingga membuat orang lain menjadi senang dan membuat diri saya bangga karena bisa bekerja maksimal dan tepat waktu, hal itu menurut saya patut saya banggakan karena seiring perkembangan jaman yang membuat mungkin sebagian anak seumuran saya menjadi kurang bertanggung jawab terhadap tugas-tugasnya dan kurang menghargai waktu, saya masih bisa bertanggung jawab terhadap tugas-tugas saya dan lebih menghargai waktu tersebut.

Mungkin hal terakhir yang saya dapat ceritakan sedikit mengenai sifat saya yaitu saya dapat berhemat uang untuk menabung dan membeli suatu barang, saya dapat menyisihkan setengah jajan saya setiap bulan untuk menabung atau membeli suatu barang karena hal itu membuat kepuasan sendiri terhadap saya karena bisa menabung atau memiliki barang tanpa harus meminta terus kepada orang tua saya, walaupun uang itu bersumber dari kedua orang tua saya, namun setidaknya saya tidak menambah beban mereka untuk mencari uang lebih dalam menghidupi biaya hidup saya. Terkadang kedua orang tua saya malah meminjakan uang tabung saya demi kepentingan keluarga, saya disitu merasa bangga karena di satu sisi saya dapat membantu mereka untuk tidak mempunyai hutang kepada orang lain dan tidak harus sampai berkerja ektra untuk mendapatkan uang karena saya memiliki cadangan uang di tabungan saya.

Saya tidak pernah memaksa orang tua saya untuk mengembalikan uang tabungan saya yang mereka pakai, namun mereka selalu mengembalikan uang yang mereka pinjam ke saya. Itu yang membuat saya mempunyai suatu hal positif yang mebantu kedua orang tua saya dalam perekonomian keluarga. Mungkin itu saja yang saya dapat gambarkan mengenai diri saya dari sisi saya sendiri maupun oran lain yaitu keluarga dan teman-teman saya SMA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s